TUGAS MANDIRI 03
NAMA:Muhamad Ubay Firdos
KODE:E46
JUDUL:Wawancara tentang Pandangan terhadap Identitas Nasional
A. PENDAHULUAN
Tulisan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan mengenai pandangan masyarakat terhadap identitas nasional. Untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas dan nyata, saya melakukan wawancara dengan Rizki Amalia, seorang mahasiswi berusia 19 tahun dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA).
Saya memilih Rizki karena ia teman saya dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan organisasi sosial yang sering membahas isu kebangsaan serta peran generasi muda dalam menjaga identitas nasional di tengah arus globalisasi. Melalui wawancara ini, saya ingin mengetahui bagaimana pandangan generasi muda, khususnya mahasiswa, terhadap identitas nasional Indonesia dan tantangan yang dihadapi dalam mempertahankannya di era digital saat ini.
B. ISI PEMBAHASAN WAWANCARA
Menurut Rizki Amalia, identitas nasional merupakan jati diri yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia, yang terbentuk dari berbagai unsur seperti bahasa, budaya, sejarah perjuangan bangsa, dan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, serta keadilan sosial. Ia menggambarkan identitas nasional sebagai “lem perekat yang menyatukan berbagai perbedaan menjadi satu kekuatan bangsa.”
Rizki menambahkan bahwa identitas nasional tidak hanya sebatas simbol seperti bendera merah putih atau lagu Indonesia Raya, melainkan tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari masyarakat. Misalnya, ketika warga kampung bekerja sama membersihkan lingkungan, membantu tetangga yang sedang punya hajatan, atau saling menghormati perbedaan agama dan budaya — itulah wujud nyata dari identitas nasional yang hidup di tengah masyarakat.
Ia juga mencontohkan kehidupan di lingkungannya di Pandeglang, Banten, yang masyarakatnya terdiri dari berbagai latar belakang, namun tetap hidup rukun dan saling membantu. “Kalau ada warga yang sakit atau ada acara, semua ikut bantu tanpa pandang suku atau status. Di situlah saya melihat bahwa rasa persatuan dan gotong royong itu masih kuat,” ujarnya dengan semangat.
Namun, Rizki juga menyoroti bahwa tantangan besar identitas nasional saat ini datang dari globalisasi dan media sosial. Banyak anak muda, katanya, lebih mengenal budaya luar seperti gaya hidup barat atau tren Korea dibanding budaya sendiri. “Nggak salah sih suka budaya luar, tapi jangan sampai lupa sama budaya sendiri. Kadang malah malu ngomong pakai bahasa daerah atau ikut kegiatan adat, padahal itu bagian dari diri kita,” katanya sambil tersenyum.
Menurutnya, media digital seharusnya bisa jadi alat untuk memperkuat identitas nasional, bukan sebaliknya. Ia memberi contoh bagaimana anak muda bisa menggunakan TikTok, Instagram, atau YouTube untuk mengenalkan budaya Indonesia ke dunia. “Misalnya bikin konten tentang kuliner khas Banten, kayak sate bandeng atau rabeg, atau tentang kesenian debus dan tari tradisional. Kalau dikemas dengan kreatif, pasti banyak yang tertarik,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa identitas nasional bukan sesuatu yang kaku atau kuno, tapi bisa berkembang sesuai zaman. Yang penting, nilai-nilai dasarnya seperti cinta tanah air, gotong royong, toleransi, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika harus tetap dijaga dan diterapkan di kehidupan sehari-hari.
C. PENUTUP
Kesimpulan:
Dari wawancara dengan Rizki Amalia, dapat disimpulkan bahwa identitas nasional Indonesia adalah jati diri yang mempersatukan bangsa melalui bahasa, budaya, sejarah, dan nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan toleransi. Identitas ini hidup dalam keseharian masyarakat, mulai dari interaksi sosial, kerja sama antarwarga, hingga kebanggaan terhadap simbol-simbol negara.
Meski dihadapkan pada tantangan globalisasi dan pengaruh budaya asing, generasi muda memiliki peran penting untuk menjaga dan memperkuat identitas nasional melalui kreativitas di dunia digital. Dengan begitu, semangat Bhinneka Tunggal Ika tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
REFLEKSI MAHASISWA
Melalui wawancara dengan Rizki Amalia, saya merasa semakin memahami bahwa identitas nasional bukan sekadar konsep dalam buku pelajaran, melainkan sesuatu yang nyata dan hidup dalam diri setiap warga negara. Pandangannya membuat saya berpikir bahwa rasa cinta tanah air tidak harus ditunjukkan dengan hal besar, tetapi bisa dimulai dari hal sederhana seperti menghargai bahasa Indonesia, mencintai produk lokal, atau ikut melestarikan budaya daerah.
Saya juga tersadar bahwa di era digital ini, generasi muda seperti saya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan mempromosikan nilai-nilai kebangsaan agar tidak tergeser oleh budaya luar. Dari wawancara ini, saya termotivasi untuk lebih aktif dalam kegiatan kampus yang menumbuhkan semangat kebersamaan, serta mencoba membuat konten positif tentang budaya lokal di media sosial.
Saya percaya bahwa identitas nasional adalah kekuatan yang membuat kita tetap bersatu dalam keberagaman. Jika generasi muda mampu menjaga dan mengembangkannya, maka Indonesia akan tetap kokoh dan berdaulat di tengah arus globalisasi dunia.
Komentar
Posting Komentar