Tugas Mandiri 4
Nama:Muhamad Ubay Firdos
KODE:E46
Judul:Satu Hari Menyulam Kebersamaan di Menes: Harmoni dalam Keberagaman
Pendahuluan
Saya melakukan observasi sosial selama satu hari penuh di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, tepatnya di lingkungan tempat tinggal saya, Kampung Kadulisung. Saya memilih lokasi ini karena kampung ini merupakan salah satu wilayah yang masyarakatnya cukup beragam, baik dari sisi pekerjaan, usia, maupun latar belakang budaya. Meskipun sebagian besar penduduk beragama Islam, terdapat juga warga pendatang dari daerah lain seperti Jawa Tengah dan Lampung yang membawa kebiasaan dan budaya berbeda. Tujuan observasi ini adalah untuk melihat secara langsung bagaimana nilai keberagaman dan persatuan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana konsep integrasi nasional hidup dalam konteks masyarakat pedesaan di Menes.
Temuan Observasi
Saya memulai observasi pada pagi hari pukul 07.00 dengan mengikuti kegiatan kerja bakti warga membersihkan selokan dan halaman masjid. Di sana, saya melihat para bapak dari berbagai latar belakang sosial bekerja sama tanpa sekat. Pak Dudung, seorang petani lokal, bekerja bersama Pak Surya, seorang pegawai dari luar daerah yang baru dua tahun menetap di Menes. Meskipun berbeda asal daerah, mereka saling bercanda sambil mengangkut daun dan sampah. Bu Ida, yang dikenal sebagai penggerak PKK, menyiapkan teh manis dan makanan ringan untuk semua yang hadir. Kegiatan ini terasa hangat dan mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Menjelang siang, sekitar pukul 11.30, saya mengamati suasana pasar Menes. Di sana, saya melihat interaksi sosial yang sangat hidup — pedagang dan pembeli dari latar belakang yang berbeda saling bertransaksi dengan ramah. Misalnya, Bu Asri, pedagang sayur dari suku Jawa, dengan mudah bercakap-cakap dengan Bu Wawat, pembeli asal Banten, menggunakan campuran bahasa Jawa dan Sunda. Mereka saling memahami meski logatnya berbeda. Interaksi seperti ini memperlihatkan adaptasi budaya yang kuat dan memperkaya keberagaman di tingkat lokal.
Namun, pada sore hari, sekitar pukul 16.00, saya mendengar perbincangan di warung kopi antara beberapa pemuda. Mereka berdebat soal acara peringatan Maulid Nabi di kampung, apakah sebaiknya dilakukan secara besar-besaran atau sederhana. Perbedaan pendapat itu sempat membuat suasana agak panas, tetapi Ketua RT segera datang dan menengahi dengan tenang. Ia mengingatkan bahwa tujuan utama acara adalah mempererat tali silaturahmi, bukan mempertentangkan cara pelaksanaan. Akhirnya semua sepakat untuk bergotong royong menyiapkan acara bersama. Dari peristiwa kecil itu, saya melihat bagaimana perbedaan pandangan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang terbuka.
Analisis
Dari hasil pengamatan satu hari di Menes, saya menemukan bahwa masyarakat lokal masih memegang teguh nilai persatuan dalam perbedaan. Praktik seperti kerja bakti dan kegiatan sosial menunjukkan adanya integrasi horizontal sebagaimana dikemukakan oleh Myron Weiner (1965), yaitu keterhubungan antarkelompok masyarakat berdasarkan interaksi sosial yang rutin dan kerja sama dalam tujuan bersama. Gotong royong di Menes menjadi bukti nyata bahwa persatuan bukan hanya konsep, melainkan praktik yang hidup di tengah masyarakat.
Di sisi lain, perdebatan ringan antarwarga memperlihatkan potensi konflik sosial yang bisa muncul dari perbedaan pendapat. Fenomena ini sejalan dengan temuan LIPI (2020) tentang polarisasi sosial di tingkat lokal, yang menyebut bahwa konflik biasanya muncul karena komunikasi yang kurang terbuka atau rasa kepemilikan yang berbeda terhadap kegiatan sosial. Namun, di Menes, modal sosial seperti rasa saling mengenal, keakraban, dan kepemimpinan lokal yang bijak menjadi faktor penting dalam meredam perbedaan. Kepemimpinan yang mengedepankan dialog terbukti mampu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.
Refleksi Diri & Pembelajaran
Dari observasi satu hari ini, saya belajar bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi kekayaan jika dikelola dengan saling menghargai. Saya menyadari bahwa selama ini saya sering menganggap hubungan sosial di kampung berjalan alami tanpa perlu diperhatikan, padahal harmoni sosial memerlukan peran aktif dari semua pihak. Melihat warga Menes yang dengan semangat bekerja sama membuat saya merasa lebih termotivasi untuk ikut berkontribusi. Sebagai generasi muda, saya bisa berperan dengan cara sederhana, seperti membantu publikasi kegiatan warga melalui media sosial, mengabadikan kerja bakti, atau membuat konten positif tentang toleransi di kampung sendiri. Saya juga belajar pentingnya komunikasi terbuka untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa merusak persatuan.
Kesimpulan & Rekomendasi
Observasi satu hari di Menes menunjukkan bahwa nilai persatuan dan gotong royong masih hidup kuat di tingkat akar rumput. Warga mampu menunjukkan solidaritas lintas latar belakang, dan kepemimpinan lokal yang terbuka berperan besar dalam menjaga harmoni. Meski demikian, potensi konflik kecil tetap perlu diantisipasi dengan memperkuat komunikasi antarwarga.
Saya merekomendasikan dua hal:
-
Mengadakan “Forum Ngopi Bareng Warga” setiap bulan sebagai wadah dialog santai antarwarga untuk membahas isu sosial tanpa emosi.
-
Membuat grup media sosial kampung yang fokus pada kegiatan positif dan informasi lingkungan, agar ruang digital tetap kondusif dan mendukung kebersamaan.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, semangat “Bhinneka Tunggal Ika” bisa terus tumbuh di Menes, Pandeglang, sebagai contoh nyata persatuan dalam keberagaman.
Komentar
Posting Komentar