TUGAS MANDIRI 14 (Muhamad Ubay Firdos E:46)

 

Pendahuluan

Menurut saya, integritas adalah sikap konsisten antara apa yang saya yakini sebagai hal yang benar dengan apa yang saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Integritas tidak hanya terlihat ketika seseorang diawasi, tetapi justru ketika tidak ada yang memperhatikan. Kejujuran merupakan bagian paling mendasar dari integritas, karena tanpa kejujuran, semua nilai moral hanya akan menjadi formalitas. Sebagai seorang mahasiswa, saya memandang integritas sebagai fondasi penting dalam proses pembentukan diri, baik secara intelektual maupun moral.

Lingkungan kampus bukan hanya tempat untuk mencari nilai dan gelar, tetapi juga ruang untuk belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan. Apa yang saya lakukan selama menjadi mahasiswa akan membentuk kebiasaan dan karakter saya di masa depan. Oleh karena itu, menjaga integritas sejak di bangku kuliah menjadi hal yang sangat krusial, karena mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat akademik yang diharapkan mampu menjadi contoh di tengah kehidupan sosial.

Batang Tubuh

Dalam kehidupan akademik, kejujuran sering kali diuji melalui berbagai situasi yang sebenarnya terlihat sederhana, namun memiliki makna moral yang besar. Salah satu bentuk ujian integritas yang paling sering saya hadapi adalah godaan untuk melakukan plagiarisme. Ketika tugas menumpuk, waktu terbatas, dan tekanan akademik semakin tinggi, muncul keinginan untuk mengambil jalan pintas agar tugas cepat selesai. Saya pernah berada pada posisi di mana saya merasa tidak yakin dengan kemampuan sendiri dan tergoda untuk menyalin tulisan dari internet. Namun, saya menyadari bahwa tindakan tersebut tidak hanya melanggar aturan akademik, tetapi juga melanggar nilai kejujuran yang seharusnya saya pegang sebagai mahasiswa.

Selain itu, praktik titip absen dan kerja sama tidak jujur saat ujian juga menjadi realitas yang sering ditemui di lingkungan kampus. Tidak jarang hal tersebut dianggap sebagai hal yang wajar karena dilakukan bersama-sama dan sudah menjadi kebiasaan. Saya sendiri pernah berada dalam situasi dilema ketika diminta untuk menitipkan absen atau melihat teman bekerja sama saat ujian. Dalam kondisi tersebut, saya menyadari bahwa mempertahankan integritas tidak selalu mudah, karena ada tekanan sosial dan rasa tidak enak terhadap teman. Namun, saya belajar bahwa membenarkan tindakan yang salah, sekecil apa pun, dapat membentuk kebiasaan buruk yang berdampak jangka panjang.

Jika kejujuran akademik terus diabaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh institusi pendidikan itu sendiri. Nilai akademik menjadi tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya, proses pembelajaran kehilangan makna, dan kepercayaan terhadap dunia pendidikan menurun. Mahasiswa yang terbiasa tidak jujur berpotensi membawa pola perilaku yang sama ketika terjun ke dunia kerja dan masyarakat.

Fenomena lemahnya integritas juga sangat terlihat dalam kehidupan bermasyarakat. Saya melihat bahwa praktik korupsi, penyebaran hoaks, dan berbagai bentuk ketidakjujuran di ruang publik masih sering terjadi. Menurut pandangan saya, integritas sulit ditegakkan karena adanya budaya permisif, kurangnya keteladanan dari para pemimpin, serta orientasi masyarakat yang terlalu menekankan keuntungan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Ketika pelanggaran etika tidak ditindak secara tegas, masyarakat menjadi terbiasa dan menganggap ketidakjujuran sebagai sesuatu yang normal.

Penyebaran hoaks di media sosial merupakan contoh nyata bagaimana kejujuran sering diabaikan. Banyak orang menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, hanya karena ingin cepat membagikan atau mendapatkan perhatian. Hal ini menunjukkan rendahnya rasa tanggung jawab moral dalam menggunakan kebebasan bermedia. Dampaknya sangat luas, mulai dari menurunnya kepercayaan publik hingga munculnya konflik sosial.

Penutup

Melalui refleksi ini, saya menyadari bahwa integritas dan kejujuran bukanlah nilai yang muncul secara otomatis, melainkan harus dilatih dan dijaga secara konsisten. Tantangan terhadap integritas akan selalu ada, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat. Namun, justru dari situasi-situasi tersebut saya belajar untuk mengenal dan meneguhkan prinsip diri.

Sebagai rencana aksi setelah lulus dan memasuki dunia profesional, saya berkomitmen untuk tetap menjunjung tinggi integritas dalam setiap peran yang saya jalani. Saya akan berusaha bekerja secara jujur, bertanggung jawab, dan tidak mengambil jalan pintas meskipun berada dalam tekanan. Selain itu, saya bertekad untuk berani mengatakan tidak terhadap praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai moral, serta terus melakukan refleksi diri agar tidak mudah terbawa arus lingkungan.

Saya menyadari bahwa menjaga integritas bukanlah hal yang mudah, namun saya percaya bahwa kejujuran adalah modal utama untuk membangun kepercayaan dan martabat diri. Dengan memulai dari diri sendiri, saya berharap dapat menjadi bagian kecil dari terciptanya lingkungan akademik dan masyarakat yang lebih berintegritas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS MANDIRI 05 (MUHAMAD UBAY FIRDOS E:46)